Subscribe Us

Aku dan Memori Berkasihnya

Foto: Ilustrasi

Aku dan Memori Berkasihnya
Oleh: ADDIN NASRUL FUAD

Husss.....
Angin berhembus kian mendekatiku kemudian pergi. Seketika aku melihat suatu hal yang ganjil. Dalam masa laluku.

Masa lalu yang berwarna gelap ini mungkin menjadi tanda kita. Tanda akan lupa janji kita. Saat ini memang aku memujamu, mengagungkan cinta kita, entah esok masihkah janji itu?. Masih dalam kaleng ikan sarden., lezat tuk sesaat. Kukira saat ini memang menjadi tanda kiamat. Kiamatnya janji cinta kita. Hem.... Karung plastik kuat tuk hari ini mungkin lusa sudah raapuh, sebab kau simpan dan kau kubur. Hingga kau lupa kalau ada hal itu.
Sudahlah... lupakanlah...

Untuk hari ini sekilas info tentang cinta kita yang kandas sebab kau menyanyikan lagu kandas. Mungkin aku terlalu mengungkit yang namanya roti expayed, sebab lupa aku makan. Hampir saja aku mati dibuatnya. Wadahnya yang rapi cantik indah dipandang terlihat lezat. Bau dan  aromanya masih. Sejak itulah pandangan pertama padamu itu muncul dan menjadikanku harus menikmatimu. Rasanya huhhh.... whhheeeekkkk.... mungkin seperti itu aku mengarang bingkai lusuh. Tapiannya rapi goresannya halus, bingkainya menggoda nan indah dan elok tuk dipandang.

Tapi kupikir ternyata ku coba tuk ku makan, makan kuas dan cat, dikira gila. Sampai ku nikahi lukisan indah dan cantik itu. Semua cemooh itu datang. Crap-crap. Rancau. Aku melayang. Kala aku rela seperti orang gila, mengemut kuas bercampur cat berlari dibelakang mobil honda jazz berhiaskan karangan bunga pernikahan. Didalamnya ada engkau yang ku anggap paling sempurna dan siapa dia? Lelaki yang lebih bergunakah dia. Apa aku tak berguna dimatamu. Hingga kau membuatku lelap didepan tawa canda dan cinta yang lainnya.

Hingga membuatku lelap hilang senyap ditelan bumi. Terngiang perasangka gelap. Apa tuhan sudah bosan dengan tingkahku, mungkin sudah. Itu yang pernah dikatakan Ebit G dulu. 
“apa masih kali ini kau menerima musibah seberat ini?”
“kenapa abang bilang gitu?”
“harusnya kau tanya pada hatimu. Apa memang hanya itu harapanmu?”

Seketika itu bang Ebit seperti melempar pisau pada pohon pisang. Memang aku batang kayu lapuk. Rapuh memang. Kayu lidikah aku?. Tanpa teman. Sendiri terasing. Hanya ada rumput yang bergoyang dan berkata.” Kau terlalu rapuh untuk hidup. Bangun dan rangkailah walau hanya satu. Perlunya kau memutus diri untuk merangkai sebuah kalimat”.

Setelah sekian kali terpendam, masih banyak yang harus kulakukan. Dengan uang yang cukup, apa masih cukup untuk melamar yang lain selain dirimu.

“bergeminglah kau nak, kini kau memang harus mengusrus masa depan, tapi toh yang namanya jodoh tak bisa kau atur sendirinya, apa kau ingin mendekte tuhanmu. Ingat nak jalan tol didepan sana masih jauh untuk sampai ditempat yang kau tuju”. Itulah yang dikatan abang Zainuddin setelah meninggalnya hayati orang yang paling dicintainya. Apa yang dikatakan bang Zainuddin benar, memang perlu kutanam, kusiram, dan kusayang, walau hanya satu bunga yang terindah bagiku, yang kemudian nantinya dipetik oleh lebah. Memang hanya bisa aku pandang, tapi tak bisa aku pegang.

Setelah beribu hawa dingin dan hawa panas aura cinta, yang kian tak tersejukkan oleh hujan maupun senja pagi, tetap lelah hati tak teristirahatkan oleh senja sore, sebab cinta terkandung dalam hati yang kemudian mengembun begitu saja. Perjalanan pergi meninggalkan sedikit demi sedikit kekelaman akal dan hati menuju tempat yang lebih teduh. Perjalanan ini bersama abang Zainuddin menuju kampung halamannya yang tenang. Perjalanan dari surabaya ke padang memakan waktu yang cukup lama.

Perjalanan yang banyak menyimpan hikmah dari seorang yang tak ku kenal. Lama perjalanan masuknya angin bebarengan dengan masuknya pesan singkat dari seorang kakek.

“jikalau engkau menanam wortel diladang, daun yang besar belum tentu besar pula wortelnya, bisa jadi yang kecil daunnya besar wortelnya. Ingat ada yang tak bisa kau lihat didalam tanah tapi tuhan mengetahuinya”. Itulah yang dibisikkan lirih tapi begitu tajam. Hari apa ini?. Serasa itu sebuah secercah cahaya yang akan menemaniku. Hingga terbawa oleh senyapnya suasana.

“kek...?”
Kemana perginya?. 
Penikmat dingin desa, kaki mengajakku untuk berjalan-jalan mengitari jalan setapak ini, membuat hati tenang. Tarik nafas dalam-dalam, hufff...... seraya alam hijau menjadi sebuah tontonan yang asri dan nyaman.

Cukuplah sama. Senyum sapa dan tawa yang menghilangkan pedih hidupku. Penduduk desa yang ramah. Kemudian. Disana!!!. Siapa gerangan yang sama. Seorang bunga yang harus dipanen lagi?. Tidak lah. Tidak. Cukup. Pantang bagiku melanjutkan memetik lagi. Haruskah aku menutup mata cinta ini?. Sepertiga pagi ini matahari menampakkan senyum manisnya. Sama halnya ucapan abang zainuddin kepadaku saat itu.

“laki-laki kala mencintai seorang wanita seperti dipatri saja hahaha... dia dicaci, dimaki malah menjadi-jadi seperti semakin kuat saja patrinya sampai dia saja yang punya, semua ndak boleh melihat. Beda kalau seorang wanita seperti perhiasan saja. Kala dibawa dan dipamerkan dan nafsu belaka hahaha....”. kekeh berat tawa abang zainuddin sambil menepuk punggungku.
“kok tertawa bang?”
“sudah hentikanlah apa yang kau lakukan, bisa kau mati kering nanti. Jangan sampai kau sama sepertiku. Kau lampauilah pulau ini. Selangkah demi selangkah membuat goresan baru. Tak apa kau simpan dia untuk cindera mata saja hahaha....”. tawa terkekeh yang menumbuhkan banyak buah hikmah. Semuanya kian jelas kian terang saja. Bangga diri bisa senyum lagi, semangat mbah Marijan memang harus tertanam dalam hatiku. Rosssoooo!!!.

Waktu yang kian termakan masa dan zaman menjadikanku harus mengampu tinta emas dengan selembar kertas putih dengan seribu coretan tangan yang bertuliskan kisah ini. Membumi tak akan mati. “abang hebat... selamat..”. sambil jabat tangan kebanggaan. “iya bapak... terima kasih”. Apalah saya yang berasal usul gelap, kain hitam yang menutup mata masa depan telah hilang.

Semua apalah berubah ubah. Hijau menjadi coklat sebab kau tambah warna merah yang menjadi lebih baik dan kuat, serta meramu hidup lebih bermakna. Masa ke masa ke hidup yang  lebih banyak bercermin ke masa silam.

Semenit sesudah memandang cermin ini. Hanya ada wajah ini. Sebagai dasar cermin kemudian menatap mata hanya ada mata. Menatap kaki menggunakan mata hanya ada kaki. Semua sama mata seperti cermin bagiku. Semua sama. Beranjak dari cermin menuju kolam jernih yang tenang damai dan sama saja. Tapi saat aku beranjak datang hujan yang membuat ketenangan itu pergi. Kemudian membuatku rancau. Mungkin itulah akau yang tak pernah kalian jumpai.

Termenung senjaku ditemani oleh senja sore dan lia. “kamu kok muram gitu?”. Perkataan yang lia katakan itu membuatku kaget dan  merasa itulah cermin yang paling mengerikan.

“kenapa kamu mas?”
“ndak”. Seraya seperti menutup sesuatu dari lia. Tapi lia tidak merasa terbebani oleh kejadian itu.

Saat itulah aku menikmati senja sore bersama lia, lebih dalam dan lebih dalam hingga aku saja yang terbawa oleh lamunan masuk dan merasukiku. Sejenak melamun yang bernilai manfaat. Aku kembali dan membuang lamunan yang berisi file-file kelam.

Kubuat lelucon belaka yang hangat dan membuat kemesraan kian erat. Aku tak ingin kemesraan ini cepat berlalu. Sedikit kau kubuat marah dan ku harap kau tak memberiku belaian cinta, tapi cinta yang membelaiku hingga mati.

“kok marah.....?”
“gombal sih...”

Kunikmati kemesraan ini dan membung jauh-jauh masa lalu yang kelam dalam memori berkasihku.

Post a Comment

3 Comments