Diluar mentari bunuh diri, hujan masih belum reda. Kedua orang tua itu masih berpegangan tangan didepan tungku api cukup lama, dengan teh dan kopi hangat dalam dekap, seperti tidak ada bosan dikeempat mata mereka. Mereka adalah kakek dan nenekku, perihal umur keduanya aku kurang tau, yang jelas mereka selalu mesra setiap waktu, aku bahkan tidak yakin jika mereka benar-benar telah menikah lima puluh tahun lalu, mereka seperti sepasang yang baru menikah kemarin sore, atau seperti dua kekasih yang baru bertemu setelah puluhan tahun berpisah.
Kakek adalah seorang wiraswasta, wajahnya biasa dengan rambut keriting. Sepasang alisnya mengapit hidung dengan ukuran sedang. Muka senjanya kian teduh dengan kedua bola mata yang berbulu lentik. Garis-garis di ujung mata kakekku itu menjadi tanda bahwa bibirnya sering tersungging. Tak ada yang kulihat dari raut mukanya, selain dari pada ketulusan mendalam. Tak pula ku heran atas watak sabar dan tangguhnya ibuku, sebab memang beliau dibesarkan oleh sesosok ayah yang tulus seperti kakek.
Di depan tungku itu. Tangan keriputnya tampak enggan melepas jemari nenek. Lihat, betapa setia kakeku itu. Aku hanya bisa tersenyum saat melihat keduanya saling bercengkrama dari kejauhan tempatku kini duduk. Memikirkan, kiranya apa yang kini tengah kakek dongengkan bersama nenek, di kehangatan tungku dan jemari yang saling menyatu. Ah, kakek tak hanya pandai soal agama, beliau kaya akan cerita. Tentang aapa saja. Tak satupun ceritanya membekaskan kebosanan di telinga, bahkan selalu membawa makna. Pernah dulu, saat aku mengadu pada ibu tentang salah seorang tetangga yang kecanduan arak. Tiba2 kakek datang sembari mengambil sebungkus tembakau di laci dekat tempatku duduk. "Dunia ini penuh dengan hal yang sifatnya sementara, nggér. Masa depan pemaksiat hari ini belum tentu sesuram prilakunya. Boleh jadi Gusti Allah kersa orang itu kembali ke jalan yang benar. Dan itu bukan perkara sulit apalagi mustahil. Jadi, mulai sekarang hati-hatilah kamu membicarakan orang lain yo." Seketika kuurungkan niatku melanjutkan aduanku pada ibu. Nasehat kakek memang selalu mengena dan terpatri dlam hati juga memoriku. Dari situ aku selalu sadar akan ketulusannya. Sebab hanya yg berasal dari hati yang akan sampai ke hati.
Jauh dari hal-hal istimewa, tanpa nenek, kakek bukan siapa-siapa. Nenek adalah wanita cantik, dengan mata mempesona dan senyum yang membius. Ia seorang pensiunan, dulu ia adalah Dekan fakultas tarbiyah di UIN Batoro katong, pernah waktu itu, ia diminta menjadi rektor, tapi nenek menolaknya. Meski nenek seorang wanita tapi dia berpendikikan tinggi dan juga ikut serta dalam khasanah keilmuan, khususnya bidang Bahasa Arab, kalau nenek itu air, dia itu Tohir binafsihi dan juga muthohir lighorihi. Pernah juga iya diundang kenegeri Sudan untuk menerima penghargaan sebagai wanita berpengaruh dieranya. Namun dengan berat hati ia menolak, sebab undangan yang disediakan hanya cukup untuk satu orang, ia tidak mau jauh-jauh dari kakek. Seperti bara dan api yang ada ditungku itu.
"Kafa, mriki le!" kakek memanggilku, padahal aku belum usai memeperkenalkan keelokan nenek
"Iya"
"Kenapa belum bobok?" tanya kakek
"Belum kek, masih belum ngantuk" jawabku
"Kamu itu, sama saja kakekmu, suka begadang" sindir nenek
"Seharusnya kau lebih tau nek, kenapa aku begadang. Jelas bukan ulah sebatang rokok, atau secangkir kopi" sahut kakek
"Hehehe, jangan lagi ya kau merayu, kayak remaja saja, ingat umur" jawab nenek dengan sedikit tawa.
Ya, begitulah kakek, dengan diksi-diksi hangat dia sering mendatangkan purnama di pipi nenek, nenek sering malu-malu sambil menegur kakek untuk menyudahi bait puisi nya, padahal aku tau kalau sebenarnya nenek terpesona.
"Kek, apa boleh aku ke kamar kakek?"
"Boleh, kapan pun kau mau silahkan kesana. tanpa izin pada kakek" Jawabnya.
Aku suka sekali kekamar kakek, disana ada banyak lembaran puisi kakek yang tidak pernah terbit, semuanya tentang cinta kakek pada nenek. Kata nenek, kakek itu mahir sekali berpuisi, bahkan pertumpahan rasa keduanya bermula dari puisi, tapi entah mengapa kakek tidak membukukan puisinya, kata kakek puisinya hanya untuk nenek seorang, dia tidak suka jika ada yang menikmati puisinya selain nenek.
"Kekasih, aku berhenti menjadi Qais
Karena aku takut kau adalah Laila yang tertusuk-tusuk sepi;
Aku juga bukan Chairil yang mati diusia muda
Karena takut, jemari tidak lagi bisa menghapus air matamu, dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja;
Atau sekedar berkhayal menjadi Rendra,
Karena aku tak ingin kau tersayat sebab didua;
Aku adalah aku,
Yang ingin mengubah dosa menatapmu menjadi doa
Yang menyentuh tanganmu adalah pahala
Dan senyumu padaku adalah surga.
Karena aku telah bertaubat,
Sebab selain di langit, Tuhan juga ciptakan neraka didunia;
Yaitu saat isak tangis pecah dimata dan pipimu".
Aku tersenyum setelah membaca puisi kakek, cinta kakek pada nenek begitu dalam, aku mulai faham kenapa nenek bisa jatuh hati pada kakek. Yah, jika dua orang telah ditakdirkan bersama, takkan seorang pun yang dapat memisahkan nya, sekalipun dirinya sendiri.
Aku kafa; cucu kedua orang tua itu sangat bersyukur telah terlahir, walaupun hanya dalam dunia fiktif yang tercipta dari halusinasi kakek dan nenek.
***
" karena waktu belum memberi jawab
Kekasih, kau dan aku memang belum dinikahkan
Tetatapi dalam jiwa
kita telah beranak pinak berwujud kata".
*sebagian puisi adalah iqtibas dari puisi Rendra "kami berdua"

1 Comments
Mengingatmu, kekasih
ReplyDelete