Oleh: Ainul Yaqin
Kalut-kalut kunang malam menepi mencari teduh. katak-katak bernyanyai sehabis hujan reda. Kini malam begitu sepi, ranting-ranting membisu. ini adalah malam jum'at, orang-orang asrama berterbangan keluar, ada yang ke tegalsari untuk ziarah kubur, ada yang ke warung sekedar untuk melamun, ada yang masih setia dengan bukunya.
Aku sedikit benci kesepian, tak jarang aku ikut-ikutan tanpa tujuan pasti, yang jelas untuk sekedar menghindar sunyi, tapi aku juga benci jika euforia berlebih, kesenangan dengan huru-hara tawa sampai dibatas nyawa.
"Nun, ayo ke tegalsari! golek howo sisan ngopi" ajak kang den,
"Oh, ayo" aku iya-kan ajakannya, walau kadang tidak sesuai ekspetasi, sebab hanya cangkir-cangkir yang hangat, tidak untuk suasana.
Aku melihat kang har sedang menyiapkan motor, kelihatanya mau pergi, Tapi kemana? Setahuku dia jarang pergi, sekalipun hanya ada suara jarum jam yang menemaninya dikamar, dengan kopi pait dan mata kosong menatap pohon tua depan asrama,
"Ah, mungkin dia juga akan ke tegalsari, kita mungkin akan bertemu disana" fikirku.
Kang har orangnya pendiam. Kadang aku heran, seperti tidak ada ketertarikan terhadap lawan jenis dalam diri kang har, padahal teman sebayanya sudah banyak yang menikah. Meski kata orang-orang, dulu kang har pernah punya kekasih, mereka sudah hampir menikah, tapi setelah itu tidak ada kabar. Perawakan kang har sepeti dalam cerpen rendra "pacar seorang seniman" , Mukanya kotor, badannya tidak gagah, rambutnya seperti rumput, dan bulunya tumbuh di mana-mana seperti seekor kera. Cuma kalau sudah dipandang agak lama memang terlihat juga bahwa mukanya memang manis. Artinya, seandainya cambangnya dibersihkan dan kumisnya dipelihara baik-baik. Atau cerpen Rendra adalah manifestasi dari kang har yang ini. Tapi mana mungkin, rendra hidup dua puluh tahun silam sebelum kehidupan kang har seperti ini.
" bade tumot teng tegal sari? Menawi tumut monggo sareng" tawarku pada kang har
"Oh, kamu to nun. Ora nun, kamu duluan wae" jawabnya
"Owalah, enggeh pon, kulo rumien kang"
Di tangan kang har, kulihat dua mawar yang dia coba sembunyikan dari pandanganku , hitam dan putih. Jangan-jangan kang har punya pacar?. Mana mungkin, sedalam apapun manusia memendam cinta pastilah baunya tercium, paling tidak, satu atau dua orang temannya tau kalau dia sedang kasmaran.
Sesampai di pesarean tegalsari, kami masuk kemakam untuk tahlil sebentar, setelah itu kami ke warung angkring di timur halaman pesarean untuk ngopi. Disana kami bercengkrama banyak, pokok bahasan mengalir begitu saja tanpa disadari, bermula dari cerita karomah-karomah tokoh agama sampai tokoh-tokoh dalam novel fiksi, juga tidak lupa soal asmara, karena kami mayoritas dewasa awal dan remaja akhir dengan ciri khas jiwa menggelora soal cinta.
"Eh, nun menurotmu mbak lastri iko ayu ra? Cocok ra karo aku?" tanya kang den padaku
"Mmm, bagiku wong e yo biasa wae kang, koyo wong wedok umum e" jawabku
"Lah, garakno kowe dudu aku nun, cobo deloken iki!" sambil menunjukan foto mbak lastri
"Piye manis to? Bagiku mbak lastri iku koyo malaikat atid, seng kor niteni keapikanku, kadang yo koyo jibril, seng gowo kabar gembira neng aku, sering ugo koyo mikail seng nguwenehi riski kebahagian nang aku" sahutnya, dengan mubalalghoh kepribadian mbak lastri
"Oh, iyo kang, tapi mosok iyo, mbak lastri duweni irodah koyo ngono?"
"Hahaha, ngawor wae koe iku, yo ora-lah, panggah Pengeran seng duwe irodah, lewat lantaran mbak lastri". Aku iya-kan soal kemanisan mbak lastri, karena aku sudah hafal kang den yang tergila-gila mbak lastri, percakapan apapun saja yang berkaitan dengan cinta, dikepalanya hanya ada Tuhan, orang tua dan mbak lastri. Entah kenapa tidak dia lamar saja mbak lastri, atau sebenarnya masih merasa belum pantas meminangnya? Entahlah, buakan urusan ku soal demikian itu.
Sudah hampir pagi, mataku kesana-kemari mencari kang har yang tadi mau ketegalsari, tapi aku tidak menemukannya.
" kang, ayo mbalek!, wes meh jam telu iki, adem" ajak ku pada kang din,
"Ayo" jawabnya.
Sesampai diasrama, kulihat motor kang har belum ada diparkiran, kemungkinan besar dia belum pulang.
"Dududududud" terdengar suara motor kang har yang baru pulang. Aku masih penasaran, dari mana sebenarnya dia itu?.
****
Keesokan malam, langit nampak cerah, lengkap dengan rembulan bintang-bintang dan awan-awan kecil. Aku pergi ke atas bangunan asrama untuk menikmati momen ini, padang bulan kala musim penghujan adalah kehangatan kopi yang dinanti. Tanpa sengaja, mataku melihat kang har menyiapkan motornya untuk pergi, seperti kemarin malam, Langkahnya perlahan dengan pasti. Ah, aku tidak bisa membendung rasa penasaranku, aku putuskan untuk mengikutinya.
Tiba dijalan raya, kang har melaju cukup kencang menuju ke arah madiun. Kulihat kang har mampir kewarung, "jangan-jangan penjaga warung itu kekasihnya". Kang har keluar dan melanjutkan perjalanannya, dia berhenti di jalan sepi dekat tugu reog, perbatasan ponorogo madiun. Aku menjaga jarak 20 meter dari tempat kang har berdiri, kulihat dia mengeluarkan sesuatu dari dasbor motor, kelihatanya itu adalah kopin yang baru dibeli. Dia duduk-disana sendirian, memainkan hp, kelihatannya dia mau menelpon seseorang, tapi siapa? Atau dia sedang ada janji dengan seseorang di jalan gelap ini? Ah, kenapa sih kang har itu? Fikiran burukku tentangnya mulai bermunculan karena tingkah laku kang har yang mencurigakan. "Kringgg" tiba-tiba hpku berdering. sontak saja kaget, ternyata yang menelponku adalah kang har.
"Hallo, kang"
"Nun, mereneo, aku tau kamu didekat sini"
"Heheh, iyo kang, sepurane yo, aku ngetotne sampean" jawabku dengan malu, karena tertangkap basah. Aku kesana, kulihat kang har benar-benar sendiri
"Rokok nun" tawarnya,
"Enggeh kang" sahutku, sambil mengambil sebatang. Dia hanya diam dengan memandang jalan yang sepi, dipinggir jalan itu aku juga melihat dua mawar yang dibawanya kemarin. Dia seperti tengah menunggu seseorang.
"Nun, disinilah kami berjanji untuk bertemu, dia menyuruhku membawakan mawar hitam dan putih. Empat tahun lalu tepatnya, sebelum dia menghilang, dia pernah berkata " nikahi aku setelah membawakan dua mawar, hitam dan putih", dia menyuruhku membawaknya pada jum'at ketiga dari awal bulan. Aku yakin dia adalah jodohku, sebab itu aku tidak tertarik pada perempuan lain. dan dia juga berkata akan mengambil kedua mawar ini. Itulah kenapa setiap jum'at ketiga dari awal bulan aku berziarah kesini untuk membawakan dua wardah"
"Tapi kenapa hari ini sampean kesini lagi?" tanyaku padanya,
"Aku hanya memastikan, mawar yang kubawa telah diambil olehnya atau belum. Jika mawarnya masih ada, akan kubawa pulang dan aku akan membawanya pada jum'at ketiga yang akan datang".
Segitukah kang har? Mungkin memang benar kata kang din, bahwa seorang yang telah jatuh cinta bagaikan atid, yang hanya dapat melihat kebaikan dari kekasihnya. Sudah hampir pagi, aku dan kang har kembali, dia mengambil lagi dua mawar itu, sama sekali tidak tergambar rasa kecewa atau benci dimukanya. Setapak demi setapak kami tinggalkan pemakaman ini, telah terbaring kenangan kang har, bersama rasa cinta, benci, dan kecewa yang telah terkubur disana.


2 Comments
Keren sekali ceritanya👍
ReplyDeleteSaya bukan ahli dibidang percerpenan..hehe..tp pesan yg ingin disampaikan penulis tersampaikan dg sangat sederhana dan mendalam..
Harusnya dilanjut ceritane kang har,biar lbh seru
ReplyDelete