Oleh: Addin Nasrul Fuad
“man lagi dimana?” suara keluar dari handphonku.
“la opo telpon-telpon?, isuk-isuk meneh. Ganggu wong tidur wae”
“anu man... besok ada konser diponorogo”
“konser apa ji?”
“konser kangen masa lalu”
“konser apa iku? Ngece aku itu”
“hahahaha...”
Sambutan sinar matahari dan guyonan seorang sahabat yang mencairkan suasana pagi. Tanpa kopi sudah hangat, sebab sinar mentari menghangatkan hawa dingin didesa ini. Kehilangan kekasih hati bukan suatu kesalahan dari kenuranian hati. Tak bisa aku menyalahkan hati nurani, sebab hati juga bisa berbuat salah dalam memilih. Cukup sedikit sambutan dari pekatnya kopi hitam dan segulung tembakau yang cengkehnya terbakar habis oleh api.
Aji sahabat dekatku yang merantau dikota-kota terdekat kota sejuk dan ramai akan patung hidup. Disana dia bekerja disalah satu mall yang ada dikota itu. Aku sendiri yang ada didesa lebih memilih bekerja membantu orang tua dikebun dan sawah. Untuk penghasilan sendiri aku dan aji memang berbeda. Aku yang hanya membantu disawah dengan panenan yang berbeda tiap musim panennya, membuat sekala rejekinya naik turun dan terlalu berat bagi orang tua ku untuk menghidupi hidup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari.
Ayahku mulai berkepikiran untuk memondokkanku disalah satu pondok pesantren yang ada dikota.
“nak koe mondok ya?”
“kapan pak?”. Entah kenapa aku merasa kasihan kepada bapak hingga akhirnya kuputuskan untuk mengiyakan apa yang beliau minta.
“besok le daftar ya?”
“nggeh pak”
Sore yang lelah dengan rasa bahagi bapak dan ibuku membuatku ikut bahagia. Bahagia yang dibarengi oleh senyum senja yang kian berakhir, dan kenikmatan kebersamaan yang diikuti hawa desa yang akan aku tinggalkan.
pagi yang diawali dengan perjalananku dan bapak dari desa terplosok yang indah nan sejuk. Lambaian tangan yang penuh akan bakal rindu yang mendalam dan bentuk kerestuan dari ibuku membuatku lebih yakin dan optimis. Dengan menaiki angkodes kami menempuh waktu hampir dua jam agar sampai dikota dan ganti naik bis antar kota.
“pak”
“opo le?”
“nanti saya ngabdi dindalem mbah yai pak?”
“ya karepmu piye? Bapak ikut keinginanmu. Mau masuk sekolah lagi ya nggak apa apa. Opo malah ngaji saja juga nggak apa apa. Tapi nak, mending nanti kamu ngaji sama ngabdi saja di ndalemnya mbah yai”.
“nggeh pak”. Percakapan nikmat dengan sejenak melelapkan rasa lelah disambi ngopi dan ngerokok ini membuat kami berdua kian menambah kedekatan antara bapak dan anak. Saat itu kami sampai di terminal kota ponorogo setelah menempuh waktu yang cukup lama.
Siang yang cukup panas dan sedikit bersahabat dengan hawa kota yang ramai dan bising. Semoga disana tak seramai dan sebising kota yang ringkuh ini.
“ngapunten pak, mau ikut duduk boleh?” tanya seorang yang aku dan bapak tidak menegenalnya.
“iya pak silahkan” sahut bapak dengan penuh senyum dan ramahnya.
“bapak dari mana?”
“saya dari njohoo trenggalek, la bapak sendiri dari mana?”
“saya dari jogja, sleman pak”
“ooh, jauh ya?”. Percakapan antara bapak dan seorang yang agak tua kisaran lebih tua dari beliau sendiri. Percakapan yang nikmat itu terjadi sangat lama. Waktu telah mempererat mereka walau baru bertemu dalam skala waktu yang singkat.
“oh modelanmu..”
“man, ayo ngopi ditempat biasa, karo bahas-bahas masa lalumu, hahaha”
“tempat biasanya ya ji?”
“iya man, aku sudah lama ndak ngopi sama kamu”
“oke tak tunggu tekamu”.
Siang menjelang sore yang mengharukan, menuntun kami sampai didepan pintu gerbang pondok yang akan aku geluti hingga sukses nanti. Beliau yang terlihat berat akan rasa kepergianku menambah berat hatiku untuk mengemban perintahnya untuk menuntut ilmu. Semua prosedur yang telah kami lalui telah usai dan kini tinggal menunggu kunci almari dan penempatan kamar. Hingga itu pun sampai sore tiba. Seluruh rasa sedih pun bercampur dengan akan datangnya rindu disetiap belajar dan kegiatanku yang padat yang menungguku dipenghujung esok nanti. Hingga beliau memberi nasehat yang begitu mahal harganya entah berapa bilangannya yang tak mungkin bisa ku tebus dengan uang.
“nak kalo ngaji atau apa pun itu, entah ngabdi atau belajar sampai ibadah kepada gustimu, haruslah kau ikhlas jangan minta imbalan apa saja, ojo malas, kekancano”
“nggeh pak” sambil menjabat tangan beliau dengan hormat dan menciumnya.
“bapak muleh yo le? Seng tenanan lek ngaji”
“nggeh pak, ngantos-ngantos pak di jalan”
“assalamuallaikum”
“wa’alaikum salam”
Perpisahan yang ditutup oleh tenggelamnya senja yang kian gelap dan kian menggulung waktu menjadi sebuah teater yang diskenario oleh sang sutradara Alloh SWT yang maha kuasa atas masa depan hambanya. Semua kujalani dengan apa yang telah beliau pinta kepadaku, hingga malam itu malam yang begitu mengharukan, tapi aku harus kuat, inilah jalan tuhan yang tanpa batas dan penuh bentangan kasih sayangnya.
Waktu yang kian termakan masa menjadikan aku melewati kehidupan pondokku dengan bentangan pengalaman yang aku lewati kian berharga. Terlebih saat aku bertemu dengan teman yang lebih akrab dan dekat. Pada malam itu dan pada saat ngopi itu. Bersama dengannya. Pertemuan pertama kita. Saat itu aku yang masih satu tahun dipondok dan mengalami kehidupan yang cukup berbeda dari yang lainnya.
Setelah makan dengan rekan-rekan pondok, kami tidak lekas cuci tangan, melainkan dengan merumpi kesana kemari sampai hampir manjing waktu isya’. Dengan tiap rumpi tema yang baru dan redaksi yang lain pula. Terlebih saat kami selesai dapat jatah membuang sampah sampai dua gerobak penuh. Dua gerobak yang terjembabkan lelah yang sangat dan dahaga yang luar biasa. Menjadikan kami lebih lama merumpi dan bercanda tanpa ujung.
Makan pun telah usai dan kami pun belum menunaikan isuh tangan. Langsunglah sholat tanpa cuci tangan, cukup mengusapnya dengan kain lap. Terlebih saat malas-malasnya mandi kami hanya mencuci tangan dengan sabun yang menempel ditembok-tembok. Itu hanya sabun bekas milik santri-santri yang tak terpakai atau lebih-lebih terbuang dan ditempel ditembok, pokok yang penting ada. Begitu meningnya hidup dipondok bagiku.
Kembali-pada saat aku keluar malam, pergi bermunajat ke warung kopi dan ngerokok sepuas sendiri, hanya sekedar melepas lelah dan sumpek dipondok. Mencari ketenangan dan keheningan, dekat dengan sungai sejuk dan kunikmatilah kepahitan ini. Hingga pada saat akan keluar, ada penjaga gerbang-keamanan pondok- yang kurang senang, sebab setiap malam seluruh santri dilarang keluar. Hingga pelarian melewati gerbang belakang itu pun terjadi.
“kang! Arep nangdi?” dengan nada tinggi. Seraya berlari dan mengucapkan sepatah dua patah kata. “ojo tekok e”. Dan akhirnya keamanan itu mengejar terlihat dibelakangku, ternyata dia seorang keamanan junior yang dengar-dengar namanya kang Ali.
Berlari dengan menyiapkan seluruh jurus-jurus ampuh untuk mematahkan setiap apa yang dia hantamkan nantinya. Ternyata kang ali kelelahan dan akhirnya lolos dari pelarian yang melelahkan dan sampai diwarung kopi yang kutuju.
“mas? Ngopi piyambakan?” tanya seorang yang umurnya hampir sama seumuranku.
“iya mas. La masnya juga sendiri?” tanya balik yang agak terlihat bercanda
“hahaha. Iya mas la sama siapa lagi? La wong baru saja patah hati. Hahaha” dengan tawa kekehnya dan kebanggaannya yang terlihat seperti agak berbohong padaku.
“hahaha. Ngopi mas? Rokoknya ini” dengan ikut tertawa mungkin dapat mengakrabkan ku padanya dan mengajaknya ngopi dan menyuguhi rokok-jikalau dia tak membawa.
“iya mas, ini juga ada. Obat paling mujarab mas rokok itu, terlebih sambi ngopi dapat menghilangkan stress yang berlebihan sebab putus cinta, ya seperti saya ini”
“hahaha, mosok mas?”
“iya mas, sak estu”
“namine sinten mas sampean?”
“Aji mas, sampean?”
“Arman” sambil jabat tangan, sebagai awal dari pertemanan yang tidak terlalu logis.
Pertemanan tanpa ada perbedaan antar kasta sampai rentan waktu yang lama, aji seorang yang bekerja disalah satu mall dan aku yang sedang dipondok menuntut ilmu. Hingga sampai dimana diriku terlalu banyak keluar dan meninggalkan ngaji dipondok demi ingin ngopi dengan temanku aji. Hingga aku terlalu terbawa dengan pertemanan yang hampir menyeret pikiranku untuk meninggalkan pondok tanpa izin bapak dan ibuku dan bagaimana dengan harapan mereka? Apakah harus aku pupuskan harapannya disini atau tetap menjalankan apa yang diharapkan oleh mereka?.
Tidak, ndak boleh. Bahkan ajipun berkata padaku “man!, ngene ritek aku ya tau ngaji, ya ikut-ikut ngaji dialun-alun dan dimasjid juga, terus man, katanya jika kamu menempuh jalanmu yaitu seorang pelajar maka jalanilah janganlah kau bekerja itu mungkin belum waktumu bekerja, sulit disitu rejekinya man, kemudian jika kamu waktunya kerja maka ya kerjalah, sama saja man itu sebaliknya” seraya ngelepus dengan penuh percaya dirinya.
“masak iya ji?”
“loh, kamu ndak percaya ya?”
“iyo iyo, aku percoyo hahaha” dengan nasihat itulah arman membangkitkan nasihat-nasihat bapak yang hampir hilang ditelan kepesimisan.
“santai man, tidak usah ragu pada apa yang kau jalani ini, semua akan indah pada waktunya, wes to tak dukung apa yang kau lakukan asal iku apik, hahaha”
“oh, gayamu koyo yok yok oe”
“lah, dituturi konco ndak percoyo”
“yo wes, iyo lok no, hahaha”
Waktu yang cukup lama untuk menjalani seluruh kegiatan pondok hingga hampir tiga tahun aku mengemban misi orang tua dan cukup banyak apa yang aku dapat. Mulai dari ngaji, kehidupan sehari-hari dan pertemanan penuh pengalaman dengan aji. Hingga saat itu aku putuskan untuk tetap ngaji dipondok dan inginku untuk menjadi seorang penulis.
Dengan restu orang tua juga dan izin-Nya, serta dukungan dari teman-teman terlebih aji teman dekatku yang selalu mendorong dari belakang.
“ji, aku pengen dadi penulis”
“hahaha, opo seng arep kok tulis?”
“nulis uripmu seng ndak patek mujur kui lo!,hahaha!”
“hahaha, modelanmu lo le! Tapi, ndak popo tetap tak dukung”
Satu tahun menjadi seorang penulis dan aji seorang yang lebih dalam hidupnya. Dan.
“Kringgg......”.


1 Comments
👍👍
ReplyDelete