Subscribe Us

MORFOLOGI RASA



Oleh: Ahmad Fajar Ainul Yaqin

/I/
Aku percaya akan hal-hal mistis dan
Cinta bagiku sangat sakral,
Lewat mikail Tuhan kucurkan kasih sayang
Dengannya hewan buas dapat luluh,
Dan denganya seorang rela menjadi buruh.

Memandangmu adalah pantangan,
agar rasa tetap sakral
Sekalipun dalam pertemuan pertama,
aku ta'acuh akan nama, raut muka, atau mengharap bersama.

/II/
Sekujur tubuh manusia dipenuhi syaraf
Jelas bukan salahku jika syaraf-syaraf tubuh mengingat rasa nyaman didekatmu
Rasio akal menolak akan mencarimu
Kebebasan harus mutlak dibawah kuasa akal, hati jangan ikut andil.

Berbulan-bulan aku kurang waras, hidup hanya berdua dengan otak
Karena hati lebih memilih hengkang dari diri untuk mencarimu
Kubujak pulang : cukuplah suka dengan lazim, tanpa harus tau keada'an, kabar, atau kebahagiaanya

Pada akhirnya aku sadar: kebebasan itu tidak ada, yang ada hanya konsekuensi. Menemukannya atau membiarkan penasaran mencabik-cabik isi hati.

/III/
Dua pasang mata mempesona, lengkung bibir madu dengan tutur lebih lembut;
Apakah itu kau? Yang megetuk dan membawa lari hati dari tempatnya,
Tolong kembalikan, sudah berbulan-bulan hatiku tidak pulang.

Kau mungkin tidak sadar, bahwa ada hati tersesat dilabirin matamu,
Dia sensitif terhadap air, khusunya air mata;
Mulai dari sini, belum kah kau sadar?
Bahwa setiap tangismu dapat menyayatnya

/IV/
Lentera menyala, tanda gelap telah gulita diluar sana
Kini waktu aku larut-larut, masih perihal penasaran;
Aku belum tau namamu

Aku bertanya pada Atid: siapakah nama wanita itu?
Aku tidak hafal namanya, dia jarang tertulis dibukuku, coba tanyakan Roqib, jawab Atid,
Namanya **** ****, dia sering kutulis dalam catatanku, jawab Roqib.

/V/
Sudahkah jelas akan morfologi Cinta
Yang kini menjadi muta'adi, Men-cinta-i
Aku membutuhkan "mu", tanpa dua huruf itu rasaku tidak mufid

"mu" disini hanyalah lambang, dan menbutuhkan kau sebagai objek terikat
Tapi jangan kuatir, aku tidak menuntut suatu apapun
Karena rasaku hanya khobar, bukan kalam insya'

Jika suatu hari, rasaku membelah dada,
menerobos paksa, karena ingin terungkap. Sekiranya kau jangan panik;
Tidak akan ada yang berubah, kecuali aku
Bebaslah kau sesukamu, terbang-terbang lah kemanapun;

Tapi ada satu pesan terselip disana: tolong bahagialah, sesekali jangan untuk bersedih.


Post a Comment

2 Comments