![]() |
| Foto: Ilustrasi |
Bagaimana keindahan dapat didefinisikan? Memakai istilah logikawan, atau genus dan diferensianya? Apakah termasuk kategori kuantitas (al-kam)? ataukah kuwalitas (al-kayf), atau mungkin relasi (idhafah), atau afeksi (infi'al), atau subtansi (jauhar). Dari sudut pandang kimia? dari unsur apa keindahn terbuat? Mungkinkah menentukan unsur-unsur keindahan sebagaimana menentukan rumusan dari setiap benda material untuk analisis kimia?
Hingga saat ini, tak seorang pun dapat menjawab serentetan pertanyaan di atas. Bahkan sebagian orang berkeyakinan, pentanyaan-pertanyaan tersebut sama sekali tidak memiliki jawaban. Dengan keyakinan, bahwa hakikat tertinggi alam semesta ini tidak dapat dipertanyakan dengan kata tanya apa! Demikian pula keindahan tidak dapat didefinisikan. Ulama berpendapat bahwa kefasihan (al-fasahah) yang tergolong dalam kategori keindahan, pada hakikatnya tidak dapat didefinisikan dengan definisi yang sesungguhnya. Karena ia sesuatu yang dapat dimengerti, namun tidak dapat digambarkan.
Di dunia ini, kita mempunyai banyak objek yang dapat dirasa namun tak dapat didefinisikan. Di antaranya keindahan (al-jamal). Menurut Plato, akhlak termasuk kategori estetik. Plato menyebut definisi keindahan, yang intinya “keserasian benda partikular dengan yang universal." Sebagaimana bila jasmani manusia serasi antara satu dengan lainnya, akan nampak indah dan menarik. Demikian pula ruhani manusia yang dipelihara dan dididik secara seimbang antara potensi-potensinya, diberikan hak-haknya secara proporsional. Maka ruhani pun akan menjadi indah dan mulia.
Menurut Plato, Keindahan ruhani adalah keseimbangan antara akhlak dan potensi kekuatannya. Untuk menyelaraskannya targantung pada diri manusia sendiri. Berbeda dengan bentuk zahir manusia yang keindahan maupun keburukannya tudak tergantung pada pilihan manusia. Melainkan telah ditentukan oleh kehendak Allah Swt sejak dalam perut ibu. Hingga akhirnya lahir ke dunia ini dengan bentuk jasmani yang telah ditentukan.
Berbeda dengan ruhani maupun bentuk batinnya. Dunia ini, imbuh Plato, adalah tempat untuk membangun dan membentuk ruhani sesuai dengan pilihan manusia. Mulla Sadra berkomentar, “Dunia bagi ruhani ibarat perut ibu bagi janin.” Di tangan manusialah kebaikan maupun kejelekan ruhaninya terbentuk.
Kritik Definisi Keindahan Plato
Bagaimana pun juga, anggaplah benar pendapat Plato yang menyatakan adanya beragam potensi kekuatan dalam jiwa manusia. Namun, kerancuan definisi keindahan Plato terletak pada “keserasian" dalam diri manusia yang pada kenyataannya relatif, berbeda antara satu dengan yang lain. Relativitasnya tidak dapat diterapkan pada semua perkara, tidak seperti oksigen maupun hidrogen yang menjadi unsur air.
Dari sini. keindahan tidak dapat didefinisikan. sebagaimana tak seorang pun mampu mendefinisikan arus listrik. meskipun tak seorang pun meragukan wujudnya.
Apakah Keindahan Mutlak Atau Telatif?
Inilah pertanyaannya. Dengan kata lain, apakah hakikat keindahan tidak berubah dengan perbedaan penilaian? Karena ia indah secara an sich tanpa memperhatikan ada tidaknya orang yang merasakan keindahan tersebut! Seperti puncak gunung Damawan - gunung tertinggi di Iran misalnya yang tetap menjulang tinggi, sekali pun tak pernah ada seseorang yang pernah mencapai puncaknya.
Ataukah, keindahan merupakan hasil hubungan inderawi antara subyek yang melihat dengan obyek yang dilihat? Yang hasilnya berbeda antara satu orang dengan yang lain. Berapa banyak orang yang melihat kekasihnya berparas sangat cantik dan menawan, sementara orang lain melihatnya wajar-wajar saja. Bahkan, mungkin sangat buruk muka.
Seperti Majnun menilai Laila cantik tiada tara. Hatinya dipenuhi dengan perasaan cinta yang menggebu. Majnun seringkali mengungkap kecantikan Laila dalam bait-bait syairnya. Sedemikian rupa, hingga penguasa waktu itu berprasangka bahwa Laila adalah bidadari negrinya. Namun. tatkala gadis Badui tersebut didatangkan ke Istana raja, betapa terkejutnya sang raja ketika menatapnya, karena ia berkulit hitam dan berparas buruk. Demikianlah cinta membuat Majnun buta dan tuli. Seorang penyair berdendang:
قال أحدهم يوما لمجنون ليلى
إبحث عن جمال أجمل من جمل ليلى
فرغم انها في عينيك حورية
إلا ان كان شيئ عندها فيه عيب
اضطرب المجنون من كلامه
إلا أنه ضحك و قال له:
إنك ترى حصلات شعرها
و أنا أرى تموجاته
و انك ترى طرفها و أنا أرى سحر اشاراته
و اذا قعدت في عيني
لن ترى غير جمال ليلى
إبحث عن جمال أجمل من جمل ليلى
فرغم انها في عينيك حورية
إلا ان كان شيئ عندها فيه عيب
اضطرب المجنون من كلامه
إلا أنه ضحك و قال له:
إنك ترى حصلات شعرها
و أنا أرى تموجاته
و انك ترى طرفها و أنا أرى سحر اشاراته
و اذا قعدت في عيني
لن ترى غير جمال ليلى
Seorang dari mereka berkata kepada Majnun;
Carilah yang lebib cantik dari Laila
Lalila yang dimatamu bak bidadari,
Tiada Kecantikan (bisa) dibanggakan darinya
Mendengar ucapan tersebut Majnun menjadi gundah gulana,
namun ia tersenyum seraya berkata,
Bila kau lihat dia berambut lurus
Aku melihatnya berambut keriting
Bila Laila itu bulu mata, maka akulah celaknya
Sekiranya kau duduk dimataku
Tiada kau lihat kecantikan selain Laila
Sya'ir di atas menegaskan relativitas keindahan. Seolah-olah si penyair ingin mengatakan bahwa lsyq (cinta) yang menciptakan keindahan pada diri yang dicintai (ma'syuq), dan bukan keindahan yang menyebabkan cinta, sebagaimana pendapat sekelompok orang. Pendapat demikian ini terlalu ekstrem dan berlebihan. Karena, tak seorang pun dapat mengingkari adanya keindahan eksternal secara keseluruhan. Keindahan bersifat aktual, baik diiringi dengan cinta maupun tidak. Keindahan bukanlah makhluk cinta. Tidaklah penting bagi kita apakah keindahan bersifat mutlak atau nisbi (relatif) setelah terbukti adanya aktualitas eksternal yang bernama “al-jamal", baik diketahui oleh manusia atau tidak. Persis seperti wujud-wujud eksternal lainnya, puncak gunung Dawamand misalnya, realitasnya tetap ada; baik di kenal oleh orang atau tidak.
Daya Tarik Keindahan
Poin ketiga yang harus disebut sebagai mukaddimah bahasan kita adalah, bahwa keindahan melahirkan daya tarik, cinta dan pujian. Di mana ada keindahan. di situ ada atraktifitas, semangat cinta dan hasrat gerak mendapatkannya. Karena keindahan adalah sebab pencarian dan gerakan. Bahkan, filsafat Ilahiah lebih jauh menyakini bahwa semua gerakan yang ada di alam semesta, termasuk gerakan substansial yang membentuk kafilah alam fisik menjadi satuan yang bergerak, merupakan hasil cinta. Menurut ungkapan mereka, kecenderungan (al-mayl) dan daya tarik terdapat dalam semua atom di alam semesta ini. Menurut kaum filosof, fenomena tersebut dinamakan dengan isyq. Ada pembahasan tersendiri mengenai topik ini.
Sumber: فلسفة ا الشيخ مرتضى المطهرى/ Filsafat Moral Islam: Kritik Atas Berbagai Pandangan Moral | al-Huda Cet. 1 2004


3 Comments
Suatu ketika Majnun (Qais) ditanyai oleh seseorang
ReplyDelete"Hai Majnun, engkau lebih suka dunia atau Layla?"
Majnun Lalu menjawab
"Debu yang menempel disendal Layla lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya"
"Kenapa kau begitu tergila-gila pada Layla, padahal dia biasa2 saja, tidak cantik juga tidak menarik?"
Majnun pun menjawab
"Ambillah mataku dan cobalah lihat dia dengan keduanya. Cinta tidak buta, ia hanya melihat yang mungkin tidak orang lain lihat"
وعين الرضا عن كل عيب كليلة ~ ولكن عين السخط تبدى السماويا
"Apabila sudah terlanjur suka kepada seseorang maka mata tidaklah akan pernah menemukan bentuk kesalahan ~ Namun apabila sudah benci kepada seseorang maka mata akan melihatnya dengan berbagai macam kesalahan"
Ahh... Lagi lagi membuatku berfikir..
ReplyDeleteManteb lur
ReplyDelete