ليس في وسع أحد أن يطلب من أي عاشق يقدم برهانا على جمال المعشوق
Maka itu siapapun (pecinta) takkan mampu menunjukkan alasan dan memberikan bukti tentang keindahan orang yg dicintainya
Raja di Negeri Persi pernah penasaran akan cantiknya Layla yang sesampainya membuat Qois gila dibuatnya..
Saat Raja dari persi itu menemui Layla, Raja bertanya "Sungguh engkau Layla? Tak seberapa cantik sehingga engkau membuat Qais gila.
Layla mnjawab "karena engkau bukan Qais"
Cinta tak terdefinisi, taklah ada penjelasan, taklah beralasan..
Maka dari itu, jangan sekali-kali kau tanya Cinta terhadap para Pecinta •Qays
ليس للعشق تسميات ولا علامات ولا تعاريف. إنه كما هو، نقى وبسيط
Tidak ada definisi cinta yg lebih jelas banding cinta itu sendiri. Definisi cinta hanya membuat pengertian cinta itu tidak jelas. Cinta tak bernama, tak bersimbol, tak terdefinisi. Cinta adalah cinta apa adanya, murni dan bersahaja
شريفه امينه العطاس
Sumber: t.me/aswajakitab
Engkau telah menahkodai cintaku, memang benar jika tanpamu aku tak tahu harus berlabuh kemana.
Dengan ombak yang begitu mudahnya murka, tanpa kesabaranmu menerimaku ombak-ombak itu tak bisa tenang.
Engkau tercipta dari beberapa huruf dari sajakku, dimana saat ini sajakku tak bisa kembali utuh tanpamu.
Sebagiannya lagi terbakti dalam heningnya rinduku, menjadi bait-bait syair sepiku.
Jumpa rindu yang begitu riuh, dalam sepinya malamku, bayanganmu menjadi narasumber dalam perjumpaan itu.
Selanjut akan disambung esok pagi, oleh hangat senyummu, begitunya aku mengagungkanmu.
Kemudian siang itu engkau menjadi butiran salju, dikegersangan hatiku.
Entah kenapa aku begitu gigihnya menumpahkan cintaku dihari itu.
Jika esok harinya lagi engkau hanya menjadi bayangan gelap tanpa tuan.
Wahai pengendali cinta, jalankan cinta tanpa roda ini dengan huru hara kasih sayang.
Mampu terbang tanpa kepakan lara, dan mampu berlayar tanpa hamparan air mata.
Wahai kekasih, jangan kau dengarkan do'aku ini, engkau hanya akan tersimpuh malu, lalu menamparku.
Kemuadian engkau akan menghujjah untuk mengutuk semua rinduku setiap malam. Begitu mencekamnya malam sepiku.
Andai persuaanku denganmu bukan bayangan belaka, kekasih. Aku akan selalu melibatkanmu dalam sepinya malamku.
Terimalah senja soreku ini untukmu, kekasih.
_Kekasih_
Inginkan nafas bertabayun mesra
Bersama angin yang mengayunkan cinta
Jiwaku terkutuk mesra oleh kegigihan asmara
Rinduku menyeka tangisan rasa
Untuk kembali sejenak menikmati kenangan,
Tanpa ada kegagalan
Sebab kelarutan menikmati khayalan
Engkau masa tanpa lara
Senantiasa bersujud menyembah cinta
Tanpa engkau sadari luka rindu semakin menyiksa
Dan rasa tak bisa melipat masa
_Kekasih_
Cintaku tergiur untuk berkelana menjajahi mimpimu
Dimana mimpimu itu, terbangun dari aksara senja, dan berdawaikan sahajamu
Doamu menjadi penjaga dikehelaan setiap nafasku
Dan iringannya diikuti oleh berbagai ayunan cinta
Rindu menjadi tuan utamanya
Dan engkau menjadi putrinya
Aku akan menjadi air mata, yang setiap engkau bersedih akan mengusapnya
Sungguh kekasih
Tiada dusta yang paling menyiksa selain menanggalkannya
Tanpa ada tempat untuk kembali berlabuh darinya
_Kekasih_
Cinta membuat banyak rekayasa
Terkontruksi dari ritme-ritme nada asmara
Dengan melibatkanku menjadi aktor utamanya
Dan memaksaku untuk hanyut bersamanya
Engkau melibatkan atmaku, dalam drama dilema
Antara rindu yang menyiksa dan cinta yang memaksa
Membuat banyak bercak darah dihati,
Sebab engkau membuat drama cinta penuh ironi
Sampai dipenghujung kata, nafas tak lagi mengucap cinta
Terombang ambing diantara samudra dilema
Tanpa ada hati yang bisa dilabuhi oleh rasa
Kalbu gelap tanpa cahaya
_Kekasih_
Puisiku layu, kasih
Kotor penuh noda darah
Dari pena yang menuliskan luka tanpa arah
Keelokan haribmu menjadi penyongsong amarah
Dan selama rasa tak memantik kenangan, cinta tak akan bisa melipat masa.
Selamat menunaikan ibadah senja, kasih.
Ku tuturkan seperti penyair tua itu.
Akan tetapi, senja tak begitu mengagumiku.
Seperti menjelang surup pelangi mendahayukan wujudnya.
Namun, dia menolaknya.
Sehingga sebagian atmaku menjerit menyebut namanya.
Nabastala terdayuh sendu, melihat jiwaku terkutuk keelokan wujudmu.
Dayita!,
Tetaplah pegang erat tanganku, meski engkau tinggal dilangit. Kekasih!,
Tetaplah tinggal digubuk hatiku, meski engkau kini tinggal disurga.
Kasih!,
Peluk erat jiwaku, meski engkau berlabuh dimuara tuhanmu.
Kekasih!,
Tetap ingat namaku, meski kini engkau banyak mengingat nestapa hidupku.
~Addin Nasrul Fuad
A M B I G U
Dengan ombak yang begitu mudahnya murka, tanpa kesabaranmu menerimaku ombak-ombak itu tak bisa tenang.
Engkau tercipta dari beberapa huruf dari sajakku, dimana saat ini sajakku tak bisa kembali utuh tanpamu.
Sebagiannya lagi terbakti dalam heningnya rinduku, menjadi bait-bait syair sepiku.
Jumpa rindu yang begitu riuh, dalam sepinya malamku, bayanganmu menjadi narasumber dalam perjumpaan itu.
Selanjut akan disambung esok pagi, oleh hangat senyummu, begitunya aku mengagungkanmu.
Kemudian siang itu engkau menjadi butiran salju, dikegersangan hatiku.
Entah kenapa aku begitu gigihnya menumpahkan cintaku dihari itu.
Jika esok harinya lagi engkau hanya menjadi bayangan gelap tanpa tuan.
Wahai pengendali cinta, jalankan cinta tanpa roda ini dengan huru hara kasih sayang.
Mampu terbang tanpa kepakan lara, dan mampu berlayar tanpa hamparan air mata.
Wahai kekasih, jangan kau dengarkan do'aku ini, engkau hanya akan tersimpuh malu, lalu menamparku.
Kemuadian engkau akan menghujjah untuk mengutuk semua rinduku setiap malam. Begitu mencekamnya malam sepiku.
Andai persuaanku denganmu bukan bayangan belaka, kekasih. Aku akan selalu melibatkanmu dalam sepinya malamku.
Terimalah senja soreku ini untukmu, kekasih.
ASMARALUKA
_Kekasih_
Inginkan nafas bertabayun mesra
Bersama angin yang mengayunkan cinta
Jiwaku terkutuk mesra oleh kegigihan asmara
Rinduku menyeka tangisan rasa
Untuk kembali sejenak menikmati kenangan,
Tanpa ada kegagalan
Sebab kelarutan menikmati khayalan
Engkau masa tanpa lara
Senantiasa bersujud menyembah cinta
Tanpa engkau sadari luka rindu semakin menyiksa
Dan rasa tak bisa melipat masa
_Kekasih_
Cintaku tergiur untuk berkelana menjajahi mimpimu
Dimana mimpimu itu, terbangun dari aksara senja, dan berdawaikan sahajamu
Doamu menjadi penjaga dikehelaan setiap nafasku
Dan iringannya diikuti oleh berbagai ayunan cinta
Rindu menjadi tuan utamanya
Dan engkau menjadi putrinya
Aku akan menjadi air mata, yang setiap engkau bersedih akan mengusapnya
Sungguh kekasih
Tiada dusta yang paling menyiksa selain menanggalkannya
Tanpa ada tempat untuk kembali berlabuh darinya
_Kekasih_
Cinta membuat banyak rekayasa
Terkontruksi dari ritme-ritme nada asmara
Dengan melibatkanku menjadi aktor utamanya
Dan memaksaku untuk hanyut bersamanya
Engkau melibatkan atmaku, dalam drama dilema
Antara rindu yang menyiksa dan cinta yang memaksa
Membuat banyak bercak darah dihati,
Sebab engkau membuat drama cinta penuh ironi
Sampai dipenghujung kata, nafas tak lagi mengucap cinta
Terombang ambing diantara samudra dilema
Tanpa ada hati yang bisa dilabuhi oleh rasa
Kalbu gelap tanpa cahaya
_Kekasih_
Puisiku layu, kasih
Kotor penuh noda darah
Dari pena yang menuliskan luka tanpa arah
Keelokan haribmu menjadi penyongsong amarah
Dan selama rasa tak memantik kenangan, cinta tak akan bisa melipat masa.
Selamat menunaikan ibadah senja, kasih.
Ku tuturkan seperti penyair tua itu.
Akan tetapi, senja tak begitu mengagumiku.
Seperti menjelang surup pelangi mendahayukan wujudnya.
Namun, dia menolaknya.
Sehingga sebagian atmaku menjerit menyebut namanya.
Nabastala terdayuh sendu, melihat jiwaku terkutuk keelokan wujudmu.
Dayita!,
Tetaplah pegang erat tanganku, meski engkau tinggal dilangit. Kekasih!,
Tetaplah tinggal digubuk hatiku, meski engkau kini tinggal disurga.
Kasih!,
Peluk erat jiwaku, meski engkau berlabuh dimuara tuhanmu.
Kekasih!,
Tetap ingat namaku, meski kini engkau banyak mengingat nestapa hidupku.
~Addin Nasrul Fuad


0 Comments